Selasa, 03 Januari 2012

Budidaya Mangga

Mangga atau mempelam adalah nama sejenis buah, demikian pula nama pohonnya. Mangga termasuk ke dalam marga Mangifera, yang terdiri dari 35-40 anggota, dan suku Anacardiaceae. Nama ilmiahnya adalah Mangifera indica.
Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga bisa mencapai tinggi 10-40 m.

KEBUTUHAN PUPUK
Untuk mempercepat pertumbuhan tanaman muda dan mengganti hara yang terangkut saat panen dan pemulihan pohon tanaman yang sudah berproduksi diperlukan pemupukan. Tanaman mangga muda lebih banyak membutuhkan pupuk yang mengandung unsur P (fosfor) dengan perbandingan pupuk
Urea, SP-36 dan KCI adalah 4:12:3 sedangkan jumlah pupuk untuk tanaman berproduksi berkisar antara 3 - 8 % dari bobot buah yang dihasilkan, diberikan dua kali setahun, masing-masing menjelang musim kemarau dan awal musim hujan (lihat tabel 1). Pupuk organik, berupa pupuk kandang atau kompos dibutuhkan pada saat awal tanam sebanyak 10 kg untuk setiap lubang tanaman.










 PEMBUATAN LUBANG TANAM
• Buat lubang tanam dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm, dengan jarak 10 m x 12 m atau 12 m x 12 m (khusus untuk budidaya massal).
• Pisahkan tanah galian setiap kedalaman 10 cm atau 15 cm.
• Biarkan lubang tanam terbuka selama ± 2 minggu, kemudian masukkan 10 kg pupuk kandang yang telah dicampur dengan tanah lapisan bawah.












PEMILIHAN BIBIT
Pilihlah bibit mangga yang pertumbuhannya baik dan sudah siap tanam, tingginya minimal 75 cm. Verietas unggul yang dapat dipilih adalah Arumanis, Manalagi, Golek, Gadung, Gedong gincu dan Indramayu.

PENANAMAN
• Masukkan ke dalam lubang tanam 10 kg pupuk kandang campur dengan tanah bagian bawah, aduk sampai merata .
• Campur 10 kg pupuk kandang dan 100 gram urea, 300 gram SP36 dan 100 gram KCI dengan tanah bagian atas, aduk dengan merata.
• Timbun tanah bagian bawah dengan tanah bagian atas yang telah dicampur pupuk sampai setengah lubang tanam tertimbun tanah bagian atas dan bawah.
• Sebelum bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam, robek plastik polibag secara hati-hati agar tanah pembungkus akar tidak pecah.
• Masukkan bibit terpilih ke dalam lubang tanam dan timbun dengan sisa tanah bagian atas sampai sebatas pangkal batang/leher akar.


PERAWATAN
• Bibit yang baru tumbuh perlu dipelihara dengan menyiram tanaman sekali dalam dua hari apabila hujan tidak turun.
• Hama yang sering menyerang adalah penggerek batang dan kumbang. Hama ini dapat diatasi dengan menyemprotkan insektisida sistemik atau kontak dengan takaran sesuai anjuran. Salah satu insektisida sistemik adalah Furadan granul yang dapat dibenamkan di daerah perakaran tanaman.
• Penyakit yang biasa adalah blendok, mati pucuk, dan busuk buah. Gunakan fungisida seperti Benlate 0,3% untuk memberantas penyakit ini.

PEMANGKASAN
Agar tanaman dapat berbuah banyak diperlukan pemangkasan cabang. Pemangkasan pohon mangga disarankan mengikuti pola 1-3-9, yaitu 1 batang utama, diikuti 3 batang sekunder, dan 9 batang tertier. Pemangkasan dilakukan setelah bibit mencapai tinggi 1 m dengan memotong batang persis di bawah titik tumbuh. Pelihara 2 - 3 tunas yang tumbuh dari bekas pangkasan dan apabila cabang baru telah terbentuk 1 m dilakukan pemangkasan kembali. Begitu seterusnya sehingga diperoleh susunan 1-3-9 cabang.


 

Inti dari pemangkasan ini adalah hanya memelihara 3 dahan yang muncul dari setiap ujung dahan. Dengan pemangkasan seperti ini maka tajuk tanaman akan terbentuk dengan baik. Hal yang sangat perlu diperhatikan adalah pemangkasan dilakukan sedikit di atas 'ruas - ruas' batang.




Pemangkasan I
• Tanaman berumur kurang dari 1 tahun
• Memotong ujung batang sampai ketinggian 70-100 cm dari tanah
• Setelah cabang primer terbentuk, dipilih dua atau tiga cabang primer terbaik dan dibiarkan tumbuh sampai 50 cm.




Pemangkasan II
• Memotong ujung batang cabang primer yang sudah berukuran panjang 50 cm.
• Cabang primer dipotong sampai 30 cm dari pangkalnya. Setelah cabang sekunder terbentuk, dipilih 3 cabang sekunder terbaik.





Pemangkasan III
• Memotong cabang sekunder sampai 30-50 cm dari pangkalnya.
• Setelah cabang tersier terbentuk, pelihara 3 cabang tersier.
• Pemangkasan dihentikan.


PANEN
Setiap pohon mangga dewasa (berumur >10 tahun) dapat menghasilkan buah antara 25 - 50 kg per pohon/tahun. Buah akan matang sekitar 110 – 150 hari setelah bunga mekar. Panen dilakukan pada umur buah 97 hari dihitung setelah bunga mulai mekar, buah berbedak, Pemanenan dilakukan pada pukul 09.00 - 16.00 dengan menyisakan tangkai buah sekitar 0,5 - 1 cm.

Buah yang mempunyai pangkal buah membengkak dan berwarna kekuningan adalah buah yang sudah tua dan siap dipanen. Dalam memanen harus hati-hati, jangan menjatuhkan buah, getahnya tidak boleh menetesi buah lainnya, dan jangan merusak pohon. Buah yang akan dipasarkan dibersihkan dari jelaga, semut, kutu dan getah yang menempel agar terlihat cantik dan menarik untuk dinikmati.

PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT

HAMA

1. Penggerek Pucuk, Tip Borer (Clumetia transversa)

 Ulat ini menggerek pucuk yang masih muda (flush) dan malai bunga dengan mengebor/menggerek tunas atau malai menuju ke bawah. Tunas daun atau malai bunga menjadi layu, kering akibatnya rusak dan transportasi unsur hara terhenti kemudian mati.
Pengendalian; cabang tunas terinfeksi dipotong lalu dibakar, pendangiran untuk mematikan pupa, penyemprotan dengan insektisida sistemik



2. Wereng Mangga ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni)
Serangan terjadi saat malai bunga stadia bud elongation (perpanjangan tunas). Nimfa dan wereng dewasa menyerang secara bersamaan dengan menghisap cairan pada bunga, sehingga kering, penyerbukan dan pembentukan buah terganggu kemudian mati. Serangan parah terjadi jika didukung cuaca panas yang lembab. Hama ini mengeluarkan cairan manis (embun madu) yang dapat mengundang tumbuh dan berkembangnya penyakit embun jelaga (sooty mold). Disamping itu, embun madu dapat menyebabkan phytotoxic pada tunas, daun dan bunga. Pengendalian kimiawi dengan penyemprotan insektisida Diazinon dan pengasapan seminggu empat kali.

3. Ulat Philotroctis sp.

 Warna sedikit coklat (beda dengan Clumetia sp. yang warnanya hijau) sering menggerek pangkal calon malai bunga. Telur Philoctroctis sp. menetas dan dewasa menyerang tangkai buah muda (pentil). Buah muda gugur karena lapisan absisi pada tangkai buah bernanah kehitaman. Aktif pada malam hari. Pengendalian dengan PESTONA.


4. Penggerek Buah, Seed Borer (Noorda albizonalis)

 Hama ini menggerek buah pada bagian ujung atau tengah dan umumnya meninggalkan bekas kotoran dan sering menyebabkan buah pecah. Ulat ini langsung menggerek biji buah akibatnya buah busuk dan jatuh. Berbeda dengan Black Borer yang menggerek buah pada bagian pangkal buah. Lubang gerekan dapat sebagai sumber penyakit. Pengendalian : pembungkusan buah, kumpulkan buah terserang lalu dibakar, semprot dengan PESTONA.

5. Bubuk buah mangga
Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah kelihatan normal, bila dibelah terlihat bagian dalamnya dimakan hama ini. Pengendalian: memusnahkan buah mangga yang jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang halus, mencangkul tanah di sekitar batang pohon dan menyemprotkan insektisida ke tanah yang telah dicangkul.

6. Lalat buah (Bractocera dorsalis)

 Buah yang terserang mula-mula tampak titik hitam, di sekitar titik menjadi kuning, buah busuk serta terjadi perkembangan larva. Bersifat agravator yaitu memungkinkan serangan hama sekunder (Drosophilla sp.), jamur dan bakteri. Gejala: buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas. Pengendalian: dengan memusnahkan buah yang rusak, pembungkusan buah , pemasangan perangkap lalat buah dengan memberi umpan berupa larutan sabun atau metil eugenol di dalam wadah dan insektisida.

7. Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis)

 Menyerang buah dan masuk ke dalamnya. Pengendalian: dengan semut merah yang menyebabkan kepik tidak bertelur.





8. Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus)

 Tungau pertama menyerang daun mangga yang masih muda sedangkan yang kedua menyerang permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya menyerang rangkaian bunga. Pengendalian : dengan menyemprotkan tepung belerang, insektisida Diazinon atau Basudin.

9. Thrips (Scirtothrips dorsalis)

 Hama ini sering disebut thrips bergaris merah karena pada segment perut yang pertama terdapat suatu garis merah. Hama ini selain menyerang daun muda juga bunga dengan menusuk dan menghisap cairan dari epidermis daun dan buah. Tempat tusukan bisa menjadi sumber penyakit. Daun kelihatan seperti terbakar, warna coklat dan menggelinting. Apabila bunga diketok-ketok dengan tangan dan dibawahnya ditaruh alas dengan kertas putih akan terlihat banyak thrips yang jatuh. Pengendalian : tunas muda terserang dipotong lalu dibakar, tangkap dengan perangkap warna kuning, pemangkasan teratur, penyemprotan dengan BVR atau PESTONA.

10. Codot (Cynopterus brachyotis)


Memakan buah mangga di malam hari. Pengendalian: dengan membiarkan semut kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang kitiran angin berpeluit dan melindungi pohon dengan jaring.





11. Penggerek cabang/batang (Rhytidodera integra Gressit)

 Hama ini meletakkan telurnya pada ranting dari tanaman inang, selanjutnya telur akan menetas 4-12 hari kemudian, panjangnya sekitar 2 mm, terdiri 3-5 kelompok, larva instar 1- 2 menggerek kulit dan floem, setelah memasuki instar ke 3, larva menggerek kayu ranting kemudian bergerak menuju batang utama, larva berwarna putih kusam panjangnya dapat mencapai 7 cm, larva instar akir berwarna krem pucat sedang pupa berwarna krem mengkilat, kumbang aktif pada malam hari, kumbang mampu hidup 50-100 hari dan menghasilkan telur sekitar 160 butir, masa perkembangannya 7-12 bulan (tergantung varietas mangga). Gejala : pada tanaman yang rusak berat, dapat mengakibatkan ranting mengering dan diikuti dengan cabang patah, pada bekas patahan cabang, terlihat lubang dengan saluran gerekan, dan lubang gerekan tersebut keluar kotoran seperti serbuk gergaji berwarna coklat sampai hitam yang merupakan hasil gerekan larva. Pengendalian : menggunakan insektisida sistemik dengan cara injeksi kedalam pembuluh kayu.

14. Bintil Daun/ Bisul Daun (Procontarinia matteiana)

 Gejala: daun menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan kemerahan. dapat dilakukan pencegahan dengan menjaga kebersihan tanah di bawah tajuk mangga yang merupakan tempat kepompong lalat Procontarinia matteiana ditemukan. Pengendalian: penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord, Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu. Pemberian insektisida sistemik juga dapat dilakukan seperti FURADAN 3G, Curater 3G, dan Temik 10 G, di berikan di sekitar perakaran tanaman.
Baik FURADAN 3G, Curater 3G, maupun Temik 10 G adalah insektisida yang bersifat sistemik, pengendalian lain yang dapat dilakukan adalah dengan membakar daun yang terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dari tanah dan untuk memperbaiki aerasi. Berbeda dengan insektisida kontak yang akan membunuh serangga ketika terkena langsung, Insektisida sistemik ini akan bekerja setelah racun insektisida diserap oleh akar dan diedarkan ke seluruh bagian tanaman termasuk kedaun tanaman tempat bermukimnya larva Procontarinia matteiana yang akan mati ketika menghisap cairan tanaman yang telah mengandung insektisida. Melihat cara kerja insektisida sistemik ini, walaupun dosis yang dapat ditemui pada organ tanaman sangatlah kecil, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengaplikasikannya pada tanaman mangga yang sedang berbuah. Pemberian insektisida sistemik dapat diberikan setelah tanaman mangga berbuah atau jika pada umumnya tanaman mangga di Indonesia berbuah pada bulan november sampat februari, maka insektisida sistemik dapat diberikan pada bulan Maret sampai bulan Juni saat tanaman memasuki fase pertumbuhan (fase vegetatif).

PENYAKIT

1. Penyakit Gleosporium
Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur ini menyebabkan bunga menjadi layu, buah busuk, daun berbintik-bintik hitam dan menggulung. Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux.

2. Penyakit diplodia
Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka tanaman muda hasil okulasi. Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka diolesi/ditutup parafin-carbolineum.

3. Cendawan jelaga
Penyebab: jamur Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan oleh jamur yang hidup di cairan manis. Pengendalian: dengan memberantas serangga yang menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau tepung belerang.

4. Bercak karat merah
Penyebab: ganggang Cephaleuros sp. Menyerang daun, ranting, bunga dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna merah. Penyakit ini sangat mempengaruhi proses pembuahan. Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang, ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux atau sulfat tembaga.

5. Kudis buah
Penyebab: Elsinoe mangiferae Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun. Gejala: adanya bercak kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga berjatuhan. Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang.

6. Penyakit Antraknose
(Colletotrichum sp.) Terjadi bintik-bintik hitam pada flush, daun, malai dan buah. Serangan menghebat jika terlalu lembab, banyak awan, hujan waktu masa berbunga dan waktu malam hari timbul embun yang banyak. Apabila bunganya terserang maka seluruh panenan akan gagal karena bunga menjadi rontok. Pengendalian : pemangkasan, penanaman jangan terlalu rapat, bagian tanaman terserang dikumpulkan dan dibakar.

7. Penyakit Blendok

 Penyebab: jamur Diplodia recifensis yang hidup di dalam lubang yang dibuat oleh kumbang Xyleborus affinis). Lubang mengeluarkan blendok (getah) yang akan berubah warna menjadi coklat atau hitam. Pengendalian: memotong bagian yang sakit, lubang ditutupi dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam insektisida dan menyemprot pohon dengan bubur bordeaux.

Catatan : Agar penyemprotan hama dan penyakit lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dosis + 5 ml (0,5 tutup) per tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. (TunasDaon)

(Pustaka : Balai Penelitian Tanah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, LembahPinus.com, goldendew.blogspot.com)

0 komentar:

Poskan Komentar